Pengajian IIC e.V. bulan Februari 2007
Alhamdulillah pengajian bulanan IIC e.V. telah dapat berlangsung dengan lancar hari Sabtu, 3 Februari 2007 yang baru lalu meskipun, seperti biasa, harus dimulai agak “ngaret” dari jadwal yang sudah ditetapkan, karena tepat pukul 16.00 jumlah jemaah yang datang ternyata masih sedikiiiit sekali
Pengajian dimulai kira-kira pukul 16.30, dimoderatori oleh Pak Ichwan yang juga ketua IIC e.V. dan diawali dengan pembacaan surat Al-Hajj (22) ayat 27-37 oleh Bang Djamil. Berikut adalah terjemahan dari ayat-ayat yang dibacakan tersebut:
27. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.
28. supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.
29. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).
30. Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu kaharamannya, maka jauhilah olehmu barhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta.
31. dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.
32. Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.
33. Bagi kamu pada binatang-binatang had-yu, itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah).
34. Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Ilahmu ialah Ilah Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).
35. (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka.
36. Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.
37. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Selanjutnya acara pengajian dilanjutkan dengan cerita pengalaman para jemaah haji yang menjadi pembicara saat itu. Sayangnya dari 3 pembicara yang direncanakan, hanya Pak Donny dan Pak Siswono yang dapat hadir, sementara Pak Ardani berhalangan hadir.
Pak Siswono sebagai pembicara pertama bercerita tentang niat hajinya yang sebetulnya sudah cukup lama, dan amalan-amalan yang dilakukannya untuk terus menguatkan niat berhajinya, diantaranya dengan banyak berdoa agar niat tersebut dikabulkan oleh Allah. Selanjutnya beliau juga bercerita tentang persiapan-persiapan yang dilakukannya setelah resmi mendaftar sebagai jemaah haji, di antaranya dengan banyak membaca panduan-panduan haji yang ada (karena berbeda dengan di Indonesia yang ada kegiatan latihan haji sebelum para jemaah berangkat ke tanah suci, menjadi jemaah haji dari Jerman relatif tidak ada kegiatan latihan seperti itu).
Kebetulan haji tahun 1427 H ini adalah haji akbar, maka jumlah jemaah yang datang relatif jauh lebih banyak dari biasanya. Akibatnya, jadwal kadang mengalami gangguan dan perubahan. Hal tersebut dialami juga oleh Pak Siswono dan rombongannya, yang perjalanan dari Madinnah ke Mekah (kalau saya tak salah ingat, tolong dikoreksi kalau salah) yang semula direncanakan menggunakan pesawat harus diganti dengan menggunakan bus (untung bukan dengan unta Pak) dan memakan waktu yang cukup lama. Selain itu, pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan petugas haji pun kadang memakan waktu yang cukup lama. Intinya: perlu kesabaran karena harus banyak menunggu dan menunggu dalam waktu yang relatif cukup lama. Selanjutnya beliau juga bercerita tentang ritual yang dilakukannya di sana yang alhamdulillah dapat berjalan dengan lancar. Beliau juga bercerita tentang perasaanya ketika berada di tanah suci yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Sebelum memasuki sesi untuk pembicara kedua, yaitu Pak Donny, para jemaah pengajian melaksanakan shalat Maghrib terlebih dahulu dengan imam Pak Hatta Kasim. Pada sesi kedua, Pak Donny lalu bercerita ttg pengalamannya berhaji. Pergi berhajinya Pak Donny memang agak mendadak (“mendadak haji”), karena kebetulan Bapak dan Ibu mertua beliau juga akan berangkat haji dari Indonesia. Sayangnya Pak Donny tidak sempat bersua dengan Bapak Mertua beliau di tanah suci karena sebelum Pak Donny berangkat ke tanah suci, Bapak mertua beliau telah lebih dahulu meninggal dunia di tanah suci. Akhirnya beliau hanya sempat bertemu dengan Ibu Mertuanya saja. Lebih lanjut beliau bercerita tentang teknologi informasi (internet) yang cukup membantu dalam mencari informasi tentang haji, juga GoogleEarth yang cukup membantu untuk membayangkan medan yang akan dihadapi nanti ketika beribadah haji. Lalu beliau juga bercerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah administrasi selama pelaksanaan ibadah haji seperti prosedur pemeriksaan, pembagian jemaah berdasarkan negara atau benua, dll. Beliau juga sedikit bercerita tentang masalah “mazhab” yang mungkin harus diperhatikan ketika hendak memilih biro perjalanan haji, karena menurut beliau kadang suatu kegiatan dalam ibadah haji dianggap sebagai sunah oleh mazhab yang satu tetapi oleh mazhab yang lain dianggap wajib. Syukurnya, bahwa biro perjalanan haji yang diikuti oleh Pak Donny (yang mengikuti mazhab Hanafi) mau memberikan fasilitas kepada Pak Donny yang mengikuti aturan ibadah haji berdasarkan mazhab Syafi’i, meskipun untuk itu harus mandiri karena harus terpisah dari rombongan untuk beberapa waktu.
Selanjutnya, usai Pak Donny menceritakan pengalamannya, acara dilanjutkan dengan diskusi yang dimulai dengan pertanyaan “pancingan” oleh Pak Ali Jahja. Pak Ali bertanya (dengan pengantar yang cukup panjang) “Apakah Pak Siswono kenal dengan Pak Baqin?” yang dijawab “kenal” oleh Pak Siswono.
Selain itu, dalam pertanyaan oleh Pak Ali tersebut beliau juga menyatakan bahwa di Mekah sana tidak ada itu yang namanya “mazhab”, kalau imam membaca Al-Fatihah maka makmum semuanya ya mengucap “amin” di akhir imam membaca surat Al-Fatihah tersebut. (padahal pada waktu mengucap “amin” pun para jemaah punya variasi yang bermacam-macam, tergantung pada mazhab mana yang diyakini dan dianut, kata saya dalam hati)
“Pancingan” dari Pak Ali ternyata berhasil, Pak Rafles pun lalu bertanya tentang perbedaan mazhab tersebut kepada Pak Donny, yang dijawab oleh Pak Donny bahwa memang seperti itulah yang terjadi di sana, bahwa kalau kita memang punya aturan ibadah yang agak berbeda dan memang berada dalam rombongan yang berbeda dengan mazhab yang kita ikuti, maka harus bersiap-siap untuk mandiri demi keafdolan kita.
Ada yang terlupa, ketika Pak Donny sedang berbicara dalam sesi kedua, datang Pak Fuad yang selama sebulan ini akan berada di Hamburg (datang di Hamburg sejak minggu lalu) untuk mengurus beberapa hal yang berkaitan dengan disertasinya. Selanjutnya, atas usul Pak Ali Jahja yang disetujui oleh moderator, beliau “didaulat” untuk memberikan sepatah dua patah kata sambil menunggu waktu Isya yang tinggal 15 menit lagi. Lalu beliau sedikit bercerita tentang kondisi Islam di Indonesia dan juga tentang ketertarikan generasi muda di Hamburg ini mempelajari Islam. Dari pembicaraan singkatnya tersebut, sebuah pertanyaan diajukan oleh Pak Taufik Askar: “Bagaimana caranya agar ruh Islam mengalir dalam tubuh umat Islam, karena selama ini (menurut penilaian Pak Taufik) umat Islam banyak yang cenderung hanya melaksanakan Islam hanya sebagai ritual belaka?” (hmm pertanyaan yang bagus Pak, mungkin bisa dijadikan tema pengajian bulan depan).
Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh Pak Fuad, bahwa memang kekurangan sebagian besar umat Islam adalah dalam menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kalau surat Al-Asr berbicara tentang waktu, maka seharusnya umat Islam bisa menghargai waktu dan jangan suka ngaret (nyindir nih…). Lalu beliau menyitir kata-kata Muhammad Abduh: “Saya menemukan Islam di Barat tanpa orang Muslim, sedangkan saya di Mesir menemukan orang Muslim tanpa Islam”. Jadi ini memang PR kita semua, begitulah kira-kira.
Wah, sudah cukup panjang nih ceritanya. Oh iya, ada yang terlupa, dari kotak amal yang diedarkan, alhamdulillah mampu terkumpul sumbangan sebesar 130,- Euro. Terimakasih kepada para jemaah, semoga Allah membalas pahala Bapak/Ibu dengan balasan yang setimpal. amin!
Akhir kata, mohon maaf kalau dalam laporan pandangan mata ini ada kata-kata yang salah dan kurang berkenan.
Leave a Comment