Idul Adha 1427H di KJRI Hamburg
Alhamdulillah, hari Sabtu tanggal 30 Desember 2006 (10 Dul Hijjah 1427 H) shalat Idul Adha yang diselenggarakan di aula KJRI Hamburg berjalan dengan lancar. Berhubung pelaksanaannya jatuh di akhir pekan (hari libur kerja), maka jumlah jemaah yang datang untuk melaksanakan shalat Ied pun cukup banyak. Shalat Ied dimulai pukul 09.15 waktu Hamburg dengan imam dan khatib Dr. Syamsuddin Arif, mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil program doktor keduanya di Frankfurt dengan beasiswa dari DAAD. Judul kutbah yang beliau berikan usai memimpin shalat Ied adalah “Refleksi Idul Adha 1427 H/2006 M”.
Dalam kutbahnya itu beliau meninjau tentang kondisi umat Islam saat ini, baik di tanah air maupun di banyak belahan dunia lainnya, yang masih jauh dari harapan. Contohnya, umat Islam Indonesia yang seharusnya hidup sejahtera di bumi yang kaya raya, mayoritasnya justru hidup sengsara dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Kasus busung lapar dan bencana alam di mana-mana, angka pengangguran yang terus meningkat, beban hutang luar negeri yang kian menjerat, biaya hidup yang terus melompat, adalah gambaran sekilas keadaan umat di berbagai tempat.
Hal serupa juga kita dapati di banyak negara muslim lainnya seperti Irak, Palestina, Afganistan, Pattani. Menurut beliau semua ini terjadi karena umat Islam berada dalam keadaan lemah tak berdaya, baik secara politik, militer, ekonomi, dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) sehingga mudah sekali dipermainkan dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain. Kondisi ini, menurut beliau, seolah-olah membenarkan prediksi rasulullah saw 14 abad yang silam:
Akan terjadi suatu saat dimana bangsa-bangsa lain berkumpul menghadapi kalian, sebagaimana hewan-hewan makan mengerumuni mangsanya. Mereka bertanya: “Apakah saat itu kami minoritas?” Rasulullah menjawab: “Tidak, pada saat itu kalian adalah mayoritas, tetapi kalian bagaikan buih (yang terombang-ambing) di lautan. Allah telah mencabut rasa takut dari hati musuh terhadap kalian dan menimpakan pada hati kalian penyakit wahn”. Para sahabat bertanya: “Apakah penyakit wahn itu ya rasulullah?”, beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud (4297), Ahmad (5/287) dari Tsaubah ra dan dishahihkan oleh al-Albani dengan dua jalannya tersebut dalam As-Shahihah (958)).
Lebih jauh beliau juga mengatakan bahwa selain dua penyakit itu, umat Islam juga ternyata lemah dalam pemahaman agamanya. Lemahnya pemahaman ini tak lepas dari lemahnya kita dalam menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kita beribadah haji dengan aturan Islam, shalat dengan aturan Islam, menikah juga dengan aturan Islam, tetapi kita tidak bekerja dengan aturan Islam, tidak mengelola hasil bumi kita dengan aturan Islam, tidak mengatur ekonomi kita dengan aturan Islam, tidak mengatur sistem pertahanan kita dengan aturan Islam, tidak menerapkan nilai-nilai Islam di luar rumah, di jalan, di tempat kerja, di laboratorium, di ruang-ruang publik kita. Inilah yang menjadi penyebab lemahnya umat Islam. Akibatnya, umat Islam telah menjadi korban dari ketamakan dan kerakusan bangsa-bangsa lain yang lebih kuat, lebih disiplin, dan lebih kompak.
Kemudian beliau mengingatkan agar Idul Adha bisa dijadikan momen refleksi dan evaluasi, menjadi kesempatan untuk merenung sejenak dan memikirkan kembali: “Dari mana kita, dan hendak kemana kita. Mengapa dan untuk apa kita hidup sebagai individu, anggota keluarga, pegawai, dan warga negara”.
Di akhir kutbahnya, beliau menyampaikan pesan-pesan rasulullah yang disampaikan di Jabal Rahmah 1417 tahun yang silam (tulisan lengkap tentang pesan-pesan tersebut akan dibuat terpisah untuk menghindari posting yang terlalu panjang) yang menurut beliau merupakan rumusan aktual Islam sebagai modus vivendi (way of living, resep hidup) individu, sosial ekonomi maupun politik, yaitu Islam kaaffah yang tidak berhenti pada kesalehan ritual semata, tetapi juga Islam yang mendatangkan keadilan dan kesejahteraan, Islam yang membuahkan harmoni dan kasih sayang, Islam yang menjanjikan kebahagiaan dunia akhirat.
Menurut beliau ada 3 cara yang dapat merealisir cita-cita agung tersebut yaitu:
- Mulailah dari yang kecil (ibda’ bil yasir) , perkara-perkara ringan yang sekilas tampak remeh namun sebenarnya mempunyai efek bola salju. Sampah yang bertumpuk dan merusak lingkungan berawal dari puntung rokok atau bungkus kacang, korupsi milyaran bermula dari puluhan atau ratusan ribu Rupiah. Menurut beliau, orang yang menganggap enteng dan terbiasa melakukan dosa-dosa kecil akan cenderung dan kelak berani melakukan dosa besar. Sebaliknya, kejayaan umat bermula dari kejayaan individunya, seperti pepatah Jerman: “Steter Tropfen höhlt den Stein” (Constant dripping wears the stone).
- Mulailah dari diri sendiri (ibda’ bi-nafsika), mulai dengan mendisiplinkan diri dalam beribadah, bekerja dan menjalankan tugas apapun profesi kita. Umat Islam terdahulu menjadi bangsa yang disegani dan mampu membangun peradaban gemilang dengan disiplin. Bangsa-bangsa yang pernah kalah perang seperti Jerman dan Jepang bisa bangkit dan maju karena disiplin, demikian pula Israel, Singapura, Korea, dan Malaysia. Disiplin yang bermula dari diri sendiri, dari kesadaran, kepatuhan, dan kerja keras. “Rom ist auch nicht an einem Tag erbaut worden” (Rome wasn’t built in a day either), begitu kata orang Jerman.
- Mulailah sekarang juga (ibda’ il-aana, is-saa’ah, il-yawm). Perjalanan 1000 km berawal dari satu langkah, tidak ada gunung yang tak dapat didaki, tak ada kesulitan yang tak dapat diatasi. Tidak ada yang mustahil diraih jika prosedurnya diikuti. Man jadda wajada, wa man saara ‘ala d-darbi washala, tidak ada istilah terlambat untuk meraih sukses dan kebaikan, mulailah dari sekarang, saat ini, hari ini juga.
Usai kutbah Ied, acara dilanjutkan dengan bersalam-salaman dan menikmati hidangan makanan kecil sumbangan sukarela dari para jamaah shalat Ied sambil bercengkerama dan berbincang-bincang santai. Suasana menjadi begitu hangat dipenuhi oleh suara yang riuh rendah diiringi gelak tawa kecil tanda bersuka cita. Shalat Ied juga dihadiri oleh Konsul Jenderal RI Bapak Awang Bahrin yang akan segera menempati jabatan barunya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Republik Turki pada Januari 2007 yang akan datang.
Selamat Idul Adha 1427 Hijriah, selamat bertugas di tempat yang baru untuk Pak Awang Bahrin…
1 comment so far
Leave a reply
[...] Kutbah Rasulullah di Jabal Rahmah Posted January 1, 2007 Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya pada berita shalat Idul Adha di KJRI Hamburg, berikut adalah pesan-pesan dari rasulullah yang disampaikan di Jabal Rahmah 1417 tahun yang silam yang saya ambilkan dari kutbah Idul Adha yang disampaikan oleh Dr. Syamsuddin Arif. [...]