Twilight Angle

Usai shalat Idul Adha yang baru lalu saya sempat ngobrol dengan beberapa bapak tentang kalender jadwal waktu shalat, karena kebetulan waktu itu IIC e.V. sedang menjual kalender dan jadwal waktu shalat 2007 dalam rangka mengumpulkan dana. Seorang bapak menyampaikan bahwa ada perbedaan waktu antara yang tertulis di kalender dan yang ada di program azan di komputer, dan itu membuat adanya “diskusi hangat” di keluarganya karena sebagian anggota keluarga memilih apa yg tertulis di kalender dan sebagian lainnya memilih hasil hitungan dari software azan.

Perbedaan utama yang sering muncul pada kalender waktu shalat adalah waktu Shubuh dan Isya, sedangkan untuk waktu lainnya relatif hampir sama. Hal ini sebenarnya sudah menjadi sebuah perdebatan yang hangat di kalangan pakar astronomi Islam, dengan masalah utama terletak pada penentuan twilight angle. Maka dari itu tak heran kalau hingga saat ini ada beberapa konvensi yang digunakan untuk menentukan atau menghitung jadwal waktu shalat seperti metode dari University of Islamic Sciences, Karachi yang menggunakan twilight angle 18° baik untuk waktu Shubuh juga Isya, Islamic Society of North America (ISNA) yang menggunakan twilight angle 15° baik untuk waktu Shubuh dan Isya, World Islamic League yang menggunakan twilight angle 18° untuk waktu Shubuh dan 17° untuk waktu Isya, dan beberapa metode lainnya.

Secara umum besarnya twilight angle akan menyebabkan hal sebagai berikut: semakin kecil twilight angle akan menghasilkan waktu Shubuh yang lebih siang (lambat) dan waktu Isya yang lebih sore (cepat).

Contohnya untuk kota London pada posisi 51°32′ LU dan 0°6′ BB dan zona waktu 0. Pada tanggal 1 Januari 1996, dengan menggunakan harga twilight angle yang berbeda akan menghasilkan waktu Shubuh dan Isya sbb:

Twilight Angle		Shubuh		Isya
18 derajat		6:02		18:04
15 derajat		6:22		17:43

Twilight, menurut definisi adalah hamburan sinar matahari oleh atmosfer. Keberadaan atmosfer di bumi ini mengakibatkan sinar matahari sudah dapat dilihat oleh pengamat meskipun waktu matahari terbit (sunrise) belum tiba atau masih dapat terlihat meskipun matahari sudah terbenam (sunset). Dengan demikian ada 2 jenis twilight di sini yaitu morning dan evening twilight.

Pada saat matahari belum terbit atau setelah tenggelam, posisinya berada di bawah horizon (biasa disebut sebagai garis cakrawala atau garis ufuk). Posisi matahari ketika sinarnya sudah tidak terlihat lagi hamburannya (oleh atmosfer bumi) setelah ia tenggelam atau posisi matahari ketika sinarnya mulai terlihat sebelum matahari terbit akibat dihamburkan oleh atmosfer bumi, itulah yang disebut sebagai twilight angle (sudut twilight). Sudut ini diukur dari titik pusat matahari ke garis cakrawala, seperti dapat dilihat pada gambar di atas (sudut X dan Y).

Secara astronomis terdapat 3 definisi twilight, yaitu:

  1. Twilight sipil, ketika bintang yang terterang di langit dapat dilihat cahayanya atau ketika garis cakrawala di laut masih dapat dilihat. Besar twilight angle-nya adalah hingga 6°.
  2. Twilight nautikal, ketika garis cakrawala di laut sulit untuk dilihat dan saat ketika kita tidak mungkin lagi menentukan ketinggian dengan menggunakan garis cakrawala sebagai acuan. Besar twilight angle-nya adalah 6-12°.
  3. Twilight astronomi, ketika kondisi sudah benar-benar gelap dan tidak ada lagi hamburan cahaya matahari yang terlihat. Besar twilight angle-nya adalah 12-18°.

Waktu shalat biasanya ditentukan berdasarkan twilight astronomi (seperti yang dapat dilihat pada beberapa metode atau konvensi yang saya sebutkan pada paragraf kedua di atas). Dalam software azan biasanya terdapat fasilitas untuk mengubah harga twilight angle ini, karena menurut sebuah penelitian dan pengamatan di berbagai tempat di dunia, harga sudut twilight tertentu ternyata tidak berlaku untuk seluruh tempat terhadap peristiwa ketika hamburan cahaya matahari sudah bisa terlihat (fajar shaddiq) dan saat hamburan itu hilang (shafaq di waktu Isya). Bahkan menurut Yaqub Ahmed Miftahi, besarnya twilight angle –terutama pada daerah lintang tinggi– juga bervariasi terhadap musim. Kesimpulan ini diperoleh setelah dilakukan pengamatan morning dan evening twilight dengan mata telanjang selama setahun di Blackburn, Lancashire, Inggris. Menurut hasil pengamatan itu, besarnya twilight angle bervariasi terhadap waktu dengan kisaran harga antara 12° hingga 16°.

Untuk itu, jika anda tinggal di daerah lintang tinggi maka berhati-hatilah dalam menggunakan software azan dan waktu shalat, khususnya untuk waktu Shubuh dan Isya. Situs moonsighting.com bahkan memiliki contoh yang nyata tentang beberapa kesalahan yang ada pada software tersebut.

Sumber gambar: Wikipedia.

Bahan bacaan:
1. Shalat Lima Waktu di Wikipedia.
2. Rise, Set, and Twilight Definitions, U.S. Naval Observatory.
3. Dr. Monzur Ahmed, The Determination of Salat Times.
4. Yaqub Ahmed Miftahi, Fajar and Isha (tersedia online di moonsighting.com).

1 comment so far

  1. [...] Belum lama ini, usai shalat Idul Adha, saya dan beberapa bapak-bapak eks karyawan IPTN yang bekerja di Air Bus juga sempat berdiskusi tentang kalender waktu shalat. Seorang bapak menyampaikan bahwa ada perbedaan waktu antara yang tertulis di kalender dan yang ada di program azan di komputer, dan itu membuat adanya “diskusi hangat” di keluarganya karena sebagian anggota keluarga memilih apa yg tertulis di kalender dan sebagian lainnya memilih hasil hitungan dari software azan. Perbedaan yang mencolok biasanya terjadi khusus untuk waktu shalat Shubuh dan Isya karena adanya satu parameter yang nilainya memang tidak baku yaitu twilight angle. [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.